Melayu yang emo 1

Oleh: Khalid Jaafar

Bulan March tahun lalu kawanku Eddin Khoo ke Lisboa, kota Eropah yang pertama menjalin hubungan dengan Melaka. Setiap kali Eddin ke Eropah dia akan bertanya kalau-kalau saya ada permintaan. “Belikan saya satu edisi ‘Os Lusiadas’ yang lama.” Dan Eddin tidak menghampakan. Saya dihadiahkan edisi tahun 1884, tahun takala Eropah digoncang pemberontakan di sana sini.

Os Lusiadas adalah ‘poema epico’ hasil khayalan Luiz de Camoes. Ia adalah puisi teragung zaman Nahdah Eropah dengan Vasco da Gama sebagai wira dan protagonisnya. Puisi ini akan saya kunyah tahun ini sempena 500 tahun pertembungan kita dengan Eropah. Os Lusiadas semestinya satu bacaan wajib untuk meneliti gejala pertembungan kebudayaan tersebut. Namun sepanjang pengetahuan saya ia belum pernah diteliti atau disebutkan peri pentingnya oleh mana-mana sarjana kita.

Ketika Eropah bangkit dari tidurnya Camoes membertahu kewujudan ‘opulenta Malaca’, negeriku yang mewah dan kaya. Sang penyair juga menyanyikan jiwa dua bangsa serumpun yang menduduki Melaka yang kosmopolitan – Malaios namorandos dan Jaos valentes.

Melayu diberikan sifat namorandos — sentimental, emo — oleh Camoes, sementara orang Jawa berani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s